Blog EntryTHRSep 30, '07 3:24 PM
for everyone

Tunjangan Hari Raya

Oleh Muhammad Azhari

 

            Orang-orang di sebuah kantor berita berangsur antre mengambil hidangan saat buka puasa bersama; es buah dalam cangkir kemasan air mineral serta mangkuk kotak berisi nasi plus sayur dan sepotong lauk. Beberapa jenak kesibukan itu beralih pada perbincangan dan penelusuran data atas kasus perampokan di sebuah jasa penukaran uang pecahan kecil (recehan) di Palembang oleh seorang polisi yang akhirnya menembak pecah kepala sendiri. Kemudian, ditimpali informasi dugaan suap yang menyeret seorang anggota Komisi Yudisial (KY) ke dalam jerat hukum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta. Barangkali, bisik saya kepada seorang staf redaksi, satu di antara dua berita tersebut—karena mem-booming pada pertengahan Ramadan, menjelang Lebaran—bisa saja yang dijadikan headline-nya adalah tunjangan hari raya.

Memang selama Ramadan, orang-orang lebih getol mencari tunjangan hari raya, bukan sekadar pahala atau ibadah belaka. Tanpa disadari, pemakluman saya terhadap orang yang berpuasa, baik secara vertikal maupun horizontal, ternyata dihadapkan pula pada persoalan gaya hidup (life style) menjelang Lebaran. Saat anak-anak mengelu-elukan baju baru dan THR, memaksa pasutri (pasangan suami istri) urun rembuk dari dapur hingga kasur. Ketika para perantau telah rindu kampung halaman (homesick), terus menghitung besar-kecilnya ongkos pulang dan gegawan. Terlepas dari profesi sebagai aparat, pegawai, karyawan, partikelir, profesional, buruh harian, atau pengangguran, tunjangan hari raya merupakan ikon kemenangan yang berusaha mengikis kesenjangan dalam rumah tangga, keluarga, agama, masyarakat, bangsa, dan negara.

 Seribu satu cara orang-orang mencari tunjangan hari raya, tanpa terkecuali bagi yang belum punya pekerjaan tetap. Kendatipun sudah tergambar dari lingkungan tempat kerja—seberapa besar THR yang akan diterima—segala usaha tetap dilakukan untuk tambahan biaya pengecatan dinding rumah atau menghias almari dan meja makan dengan kue kering, ketupat, atau penganan istimewa lainnya, cash or credit. Saya tentu bisa memakluminya, toh kebutuhan hari raya jauh berbeda dari hari-hari biasa. Namun, mungkin lebih baik jika saat itu pemikiran saya berkiblat pada orang-orang yang tidak mempunyai sandaran pekerjaan tetap. Katakanlah pengemis, loper koran, dan anak jalanan yang berhamburan di trotoar, lampu merah, dan jembatan penyeberangan. Bahkan, pelaku kriminal yang berkeliaran di sekitar perumahan dan pertokoan pun, semuanya juga mencari tunjangan hari raya untuk dibagikan kepada anak, istri, dan orang-orang tercinta.

Menjelang hari raya, pemberitaan di media massa, baik cetak maupun elektronik, tentunya menyoroti kesibukan masyarakat menyambut hari besar keagamaan itu. Mulai dari operasi pasar murah, arus mudik Lebaran, hingga pengiriman parcel atau kartu ucapan, merupakan breaking news bagi orang-orang yang ingin berlebaran bersama keluarga. Kalau boleh saya beranalogi, media massa dan hari raya mempunyai interteks dengan kisah Raja Anthony yang membangun sebuah istana, kemudian menukarnya dengan kecantikan Cleopatra. Betapa tidak, keindahan hari raya ternyata perlu ditunjang berbagai media massa, setidaknya sangat berharga bagi saya sehingga memudahkan  pemerolehan informasi seraya mempererat komunikasi dan silaturahmi antarkerabat.

Ketika saya membeli koran dari seorang loper, tampak pengemis dan anak jalanan mengendap-endap di tengah kesemrawutan lalu lintas akibat pembangunan fly over. Mereka berangsur mengumpulkan dan memasukkan koran-koran bekas—saban hari berita mungkin saja kedaluwarsa—ke dalam karung plastik.  Lantas ditanya oleh seorang loper tadi. “Nak dikiloke apo koran-koran tu (Mau dijual per kilogram apa, koran-koran itu)?”. Tetap saja pengemis dan anak jalanan itu meneruskan aksinya, disertai seorang dari mereka yang berkilah, “Jangan dikiloke, pacak rugi. Jualnyo kagek bae, pas wong sembayang di Mejid Agung. Dila dapet THR besak jugo. Kau ni tuo bae, tapi dak manjangke akal (Jangan dijual per kilogram, bisa rugi. Menjualnya nanti saja, saat orang-orang salat Ied di Masjid Agung. Lumayan, dapat THR-nya besar juga. Kamu dewasa saja, tapi tidak berpikir panjang)!” Bergegas pengemis dan anak jalanan itu berlarian, mendengar kabar ada razia yang digencarkan petugas ketertiban.  

Saya baru sadar atas segala kemungkinan yang bisa saja terjadi, misalnya, koran-koran bekas yang memuat kasus perampokan di sebuah jasa penukaran uang pecahan kecil (recehan) di Palembang oleh seorang polisi yang akhirnya menembak pecah kepala sendiri atau dugaan suap yang menyeret seorang anggota Komisi Yudisial (KY) ke dalam jerat hukum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta, menjadi pelapis sejadah orang-orang yang menunaikan salat Ied di hari raya. Semuanya terbersit setelah saya merenungkan, kenapa pengemis dan anak jalanan itu menjual koran-koran bekas yang sangat berharga menurut saya, lantaran mereka ingin memperoleh tunjangan hari raya.          


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help