Blog EntryTMPJan 18, '08 10:28 AM
for everyone

Taman Makam Pahlawan
 

Oleh Muhammad Azhari
 

            Semua orang pasti punya keberanian. Ikhwalnya, ada tiga kategori yang paling berani berdasarkan fakta dan fiksi, yaitu: (1) mephistophelesian, (2) sineas film horor, dan (3) pahlawan. Itu karena ketiganya terlalu berani menstimulus fighting spirit (semangat juang) untuk menaklukkan rasa takut (fear). Akan tetapi, satu di antara para pemberani itu, yang paling monumental adalah pahlawan; karena makamnya bisa dijadikan taman, lho kok?

            Sulit memang, ketika saya menabuh genderang nyali untuk memerangi rasa takut. Detak jantung seakan berubah menjadi suara tembakan salvo yang menambah kegetiran. Bagi saya, keberanian berlebihan kerap mengundang teror atas kematian masa lalu dan masa depan, disertai hilangnya identitas orang lain; mungkin bisa narcist?

Pada prinsipnya, penelusuran keberanian saya tergugah setelah membaca naskah “Faust” karya Johan Wolgang Von Goethe asal Jerman. Dalam dialog kepada Tuhan, Mephistopheles—tokoh iblis dalam naskah itu—berikrar tanpa rasa takut sedikit pun, “Terima kasih, Tuhan! Maut pun kukira tak tahu bahwa mereka berada di bawah kuasaku. Aku lebih suka pipi-pipi yang berlumuran darah dan bila sang ajal menghunuskan pedangnya, barulah Kau tutup pintu itu untukku; manusia akan tersesat, terkunyah olehku seperti tikus-tikus oleh kucing.” (Viele danke Abdul Hadi WM atas terjemahan karya tersebut). Lucu ya, iblis kok berani sekali menantang Tuhan. Belum lagi banyak manusia yang mengaku dirinya sebagai nabi. Tanpa disadari, manusia kerap digiring iblis masuk ke jurang kemaksiatan, terseret aliran sesat, selebihnya hanyut dalam pertumpahan darah. Dengan kata lain, manusia riskan disebut mephisthophelesian (baca: golongan pengikut iblis).

Sehubungan dengan itu, keberanian mengalahkan rasa takut—bukan seperti mephistophelesian yang disebutkan tadi—memberikan paradigma tersendiri bagi manusia untuk berpikir dan menggantungkan hidupnya, salah satu medianya adalah film horror yang menjadi tren anak muda sekarang. Tak pelak, para sineas—termasuk pula penulis naskah, sutradara, aktor, aktris, produser dan penonton—berani mengalihkan rasa takut itu menjadi “rantai makanan” yang senantiasa mengedepankan chaos. Menurut beberapa pakar sinematografi, sejak era film bisu, sekitar tahun 1960-an, film horor hitam putih “Night of the Living Death” yang disutradarai George A Romero, hingga serial horor TV pada tahun 1990-an, “Friday the13th,” telah berhasil merebut kembali hati penonton kontemporer. Memang selama ini peradaban manusia hanya disuguhkan cerita konyol atau kisah satir para penguasa. Maka dari itu, distorsi realitas yang kerap terbelenggu kekuasaan, sepertinya hendak ditukar oleh para sineas selaku “pahlawan” dengan animasi potongan tubuh manusia, semburan darah, dan puing-puing tengkorak sebagai “perang” kreativitas untuk memanusiakan manusia, kembali ke titik nol (from hero to zero). Paradoksal, bukan?

Berkenaan dengan keberanian para sineas film horor, saya langsung teringat anekdot teman saya ketika diskusi kecil dua tahun lalu di sebuah kelompok sineas muda di Jogjakarta, Kinoki: Bukan Bioskop, Bukan Coffee Shop. Ia berargumen bahwa film horor bisa lebih romantis dari kisah Romeo dan Juliet, Anthony dan Cleopatra, atau Sampek-Engtay. “Saat menonton film horor di bioskop, sang cowok bisa instan jadi ‘pahlawan’, apalagi pasangan ceweknya histeris, kemudian jatuh dalam pelukan.”

Ngomong-ngomong soal pahlawan, saya kembalikan lagi sidang pembaca pada konteks para pemberani. Lantas, kenapa saya sedari tadi belum berani mengatakan bahwa pahlawan sebenarnya sosok yang paling berani ketimbang mephistophelesian dan/atau sineas film horor? Toh, kecil kemungkinan iblis/mephistophelesian berani mengurungkan niat pahlawan yang rela gugur demi membela tanah air. Di samping itu, jarang sekali ada sineas yang berani mencitrakan pahlawan sebagai tokoh utama—jadi hantu misalnya—pada film horornya demi memenangkan Piala Oscar atau Piala Citra. Semoga ini tidak lebih monumental dari setiap malam renungan suci di berbagai taman makam pahlawan. Sidang pembaca yang berani, mari makamkan pahlawan di taman hati!

 

 

 

 

 

 


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help